5 Cara Praktis Untuk Mengetahui Pembalut Wanita Yang Mengandung Klorin

sebutik.com - Pembalut merupakan salah satu kebutuhan penting yang nggak absen dibeli oleh para wanita setiap bulan. Tetapi apakah SeButik Lovers tahu, ternyata beberapa pembalut banyak yang menggunakan klorin - sebuah zat berbahaya untuk kesehatan manusia.

pembalut_biasa_mengandung_klorin_tidak_seperti_pembalut_avail.jpg

Klorin pada pembalut


Klorin merupakan gas beracun berwarna kuning kehijauan dan memiliki berat dua setengah kali lebih berat daripada udara pada suhu kamar. Klorin biasanya digunakan untuk pembuatan berbagai produk, seperti obat-obatan, tekstil. Insektisida, produk kebersihan dan plastik. Klorin juga digunakan untuk membersihkan air kolam renang karena dapat membunuh bakteri, kuman dan ganggang. Nggak hanya itu, klorin dimanfaatkan sebagai pemutih dalam industri kertas.

Kandungan zat klorin yang merupakan zat berbahaya dinilai telah melewati ambang batas dan bisa menimbulkan masalah kesehatan serius bila dipakai terus-menerus dalam jangka panjang.

Pada dasarnya sebuah produk pembalut wanita haruslah bersih dan tidak mengandung zat berbahaya, ini karena pembalut kontak langsung dengan area intim wanita yang seharusnya terjaga baik kebersihan maupun kesehatannya.

Diantara ciri-ciri pembalut wanita yang baik adalah bersih dan tidak mengandung zat asing , tidak menimbulkan iritasi atau alergi, tidak berbau, netral dan juga lembut. Daya serap sebuah pembalut yang ideal adalah 10 x lipat dari berat pembalut , jika itu tidak terpenuhi maka bisa dipastikan pembalut tersebut tidak memenuhi standar.

Sementara soal warna, pembalut haruslah putih dan tidak mengandung zat pewarna. Selain hal diatas, pembalut seharusnya juga diberi tanggal kadaluarsa. Masalahnya adalah hampir semua kriteria pembalut yang ideal ini tidak terpenuhi di indonesia, meskipun kita sama-sama tau banyak sekali merk pembalut di pasaran.

Kenali Macam Pembalut Agar Terhindar dari Bahaya ?
Kurangnya wawasan kaum hawa soal pembalut memang sangatlah memprihatinkan. Kebanyakan dari mereka asal-asalan membeli pembalut tanpa tau jenis dan macamnya, lebih-lebih para remaja yang justru sering menyepelekan kualitas pembalut yang mereka beli.

Para kaum wanita justru suka memilih pembalut yang menarik baik bentuk ataupun wadahnya, apalagi jika beli 2 gratis 1, mereka pasti tidak akan menolaknya. Memilih kriteria pembalut yang mengacu pada kualitas kesehatan dan keamanannya haruslah dijadikan pedoman kaum wanita agar terhindar dari bahaya pemakaian pembalut.

Apa Boleh Pembalut Berwarna Selain Putih ?
Untuk warna selain putih pada pembalut masih dibolehkan namun hanya sebagai penanda pembalutnya saja, tidak untuk bahan utama atau bagian yang kontak dengan daerah intim wanita.

Pada hakikatnya memang pewarna pada pembalut tidak diperbolehkan, hanya saja masih ada oknum-oknum nakal yang malah menghias pembalut menjadi berwarna-warni. Ini berbahaya, jadi hindari jika menemukan pembalut wanita seperti ini.

Apa Fungsi Zat Klorin Pada Pembalut ?
Klorin atau dioksin merupakan zat yang umum dipakai dalam proses awal pemutihan pembalut.

Kenapa harus di putihkan ?
Bahan pembalut terbuat dari olahan campuran kapas dan juga rayon, proses pencampuran ini menghasilkan bahan jadi yang berwarna jelek kecoklatan, sehingga diperlukan pemutih klorin untuk memutihkannya.

Setidaknya terdapat dua jenis proses pemutihan pada pembalut, yang pertama proses memakai klorin untuk memutihkan dan kedua proses yang bebas klorin untuk memutihkan. Proses yang bebas klorin untuk memutihkan ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu Elemental chlorine-free (memakai klorin tetapi dengan kadar rendah) dan kedua Totaly free chlorine bleaching (sama sekali tidak memakai klorin).

Pembalut avail tidak mengandung Klorin dan Zat Dioksin | SeButik.com

Batas kadar klorin pada pembalut wanita


Di Amerika standar kandungan klorin pada pembalut yang dibolehkan adalah yang Elemental chlorine-free artinya masih mengandung klorin namun dalam kadar yang rendah sekitar 0,1-1 triliun dioksin klorin.

Apakah standar di indonesia juga sama ? Itulah yang belum bisa dijawab. Karena sampai saat ini belum ada kepastian soal standar penggunaan klorin dalam pembalut di indonesia. Namun, nampaknya BPOM sudah punya kriteria tertentu dalam menilai pembalut mana yang aman dan mana yang berbahaya.

Nampaknya, tidak adanya ambang batas atau standar kandungan klorin pada pembalut inilah yang menyebabkan selisih pendapat antara YLKI (Yayasan lembaga keamanan konsumen indonesia) dengan pemerintah baru-baru ini.

Menurut sebuah pengumuman penelitian yang diterbitkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memaparkan bahwa sedikitnya ada sembilan merek pembalut wanita dan tujuh pantiliner mengandung zat klorin yang berbahaya untuk kesehatan manusia, mulai dri bahaya iritasi hingga kanker.

Pengujian kadar klorin tersebut dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2015 lalu di laboratorium independen yang terakreditasi dengan mengambil sampel sembilan merek pembalut dan tujuh merek pantyliners yang dijual secara bebas di pasaran. Hasil pengujian pun menunjukkan bahwa seluruh sampel dinyatakan mengandung klorin dengan rentang 5 sampai dengan 55 ppm (part of million).

Kementerian Kesehatan mengatakan sejumlah merk pembalut wanita dan pantiliner (pelapis celana dalam) yang beredar resmi di Indonesia sudah memenuhi persyaratan kesehatan. Keterangan resmi Kemenkes ini menanggapi temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, YLKI, Selasa (07/07) yang menyebut adanya kandungan klorin pada sembilan merk pembalut dan tujuh merk pantyliner.

YLKI mengatakan zat klorin dapat membahayakan para perempuan yang menggunakan pembalut tersebut karena dapat menyebabkan kanker leher rahim, kemandulan, dan keputihan.
Seorang pejabat Kementerian Kesehatan mengatakan, temuan residu klorin dalam proses pemutihan (bleaching) produk pembalut wanita tidak berbahaya untuk kesehatan.

Kementerian Kesehatan menegaskan, proses produksi semua merk pembalut di Indonesia sesuai standar klasifikasi Badan Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA), termasuk penggunaan zat pemutih (klorin).

"FDA menyatakan bahwa masih diperbolehkan adanya jejak residu klorin pada hasil akhir pembalut wanita," kataDirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Maura Linda Sitanggang, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (08/07).

Sesuai persyaratan FDA, menurutnya, "yang digunakan (dalam produksi pembalut) adalah klorin dioksida sebagai agen pemutih dan ini dinyatakan bebas dioksin, dan ini bukan gas klorin."
Kementerian Kesehatan menegaskan pihaknya telah memastikan bahwa semua produk pembalut di Indonesia tidak menggunaakn gas klorin dalam proses produksinya.

"Jadi kekhawatiran terhadap klorin yang menyebabkan kanker itu tidak beralasan, karena semua pembalut wanita yang beredar di pasaran, bahkan di dunia, telah menggunakan proses produksi yang sama," katanya.

Berbagai merk pembalut dikatakan telah memenuhi syarat kesehatan. Lebih lanjut Linda mengatakan, semua merk pembalut yang beredar resmi di pasaran sudah dievaluasi dan dikaji dari sisi keamanan, kemanfaatan serta mutunya.

Dilansir dari CNN Indonesia, peneliti dari YLKI yaitu Arum Dinta menyatakan bahwa klorin sangat berbahaya bagi kesehatan reproduksi. Selain keputihan, gatal-gatal dan iritasi, klorin juga dapat menyebabkan kanker.  Sedangkan, Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, berkata "Klorin itu terdapat dalam dioksin yang bersifat karsinogenik. Menurut WHO, ada 52 juta berisiko terkena kanker serviks, salah satunya dipicu oleh zat-zat dalam pembalut."

Untuk menghindarinya, Tulus juga menyarankan agar masyarakat kembali menggunakan pembalut kain. Menurutnya, zat klorin tidak ditemukan dalam pembalut kain. Selain itu, pembalut kain juga bisa dipakai ulang dan dicuci kembali. Pembalut kain juga ramah lingkungan karena tidak menyebabkan pencemaran. Salah satu pencemar tertinggi di Indonesia adalah pembalut. Dalam satu bulan saja ada 1,4 miliar sampah pembalut. Pembalut kain tentu tidak menyebabkan pencemaran karena dapat dipakai ulang," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek menegaskan bahwa kadar klorin pada pembalut wanita yang ditemukan YLKI, yaitu 5-55 ppm (part per milion) ternyata masih dalam ambang batas aman. Hal itu pun disetujui oleh Direktir Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Dra. Maura Linda Sitanggang. Beliau menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya penelitian mengenai kadar klorin pada pembalut perempuan. Menurutnya, semua pembalut yang telah mendapatkan izin edar, tentunya aman digunakan oleh masyarakat.

Gunakan pembalut avail bukan pembalut biasa yang mengandung Klorin | SeButik.com

Kemenkes juga membenarkan bahwa proses pemutihan selalu disertakan dalam proses produksi pembalut wanita. Kemenkes mengklaim, pihaknya selama ini telah melakukan uji kesesuaian secara terus menerus terhadap semua produk pembalut wanita."Dan berdasarkan hasil sampling kita dari 2012 sampai pertengahan 2015 tidak ditemukan pembalut yang tidak memenuhi syarat," kata Linda.

Dalam keterangan pers pada Selasa (07/07), YLKI menemukan sembilan merk pembalut dan tujuh pelapis celana dalam yang disebut mengandung zat kimia klorin yang digunakan sebagai pemutih.
Pengurus harian YLKI Ilyani S Andang mengatakan, pihaknya melakukan penelitian setelah mendapat laporan masyarakat tentang kandungan klorin (pemutih) dalam pembalut.

"Klorin ini bisa menjadi faktor terjadinya iritasi, dan jangka panjangnya dikhawatirkan bisa menimbulkan kanker," kata Ilyani dalam konferensi pers di kantornya. Adapun penelitian berlangsung sepanjang Januari-Maret 2015.

"Dari hasil pengujian di YLKI ada sembilan merek pembalut dan tujuh pantyliner semua menggunakan klorin. Dari hasil uji pembalut tersebut mengandung klorin dari 5-55 ppm," ungkapnya.

YLKI kemudian membuat rekomendasi kepada Kementerian Kesehatan agar segera membuat Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait kadar klorin pada pembalut.

Hanya wanita yang mengalami menstruasi, dan hanya wanita pula yang harus waspada terhadap apa yang ia gunakan saat mengalami menstruasi. Oleh karena itu, sebaiknya SeButik Lovers memperhatikan pembalut yang dipakai. Dan jika ingin mengetahui secara langsung apakah benar pembalut Anda mengandung pemutih atau tidak, ini dia cara mengetahuinya.

Cara Mengetahui Pembalut yang Mengandung Klorin


1. Ambil pembalut dan sobek lapisannya. Ambil kapas (bagian putih) di dalamnya.
2. Ambil gelas transparan dan isi dengan air. Masukkan kapas pembalut ke dalamnya hingga semua bagian terendam.
3. Aduk-aduk dan biarkan beberapa saat.
4. Jika air berubah warna putih, maka pembalut mengandung pemutih.
5. Lihat apakah kapas hancur atau tetap utuh. Jika kapas tersebut hancur atau menjadi bubur dan airnya keruh, maka pembalut tersebut kurang berkualitas dan menggunakan klorin atau bahan pemutih.

Tips ini mudah dilakukan di rumah,dan Anda bisa melakukan tes ini sendiri. Yuk lebih cermat memilih produk untuk kesehatan dan area kewanitaan Anda. Mari beralih dari penggunaan pembalut wanita biasa ke pembalut wanita Avail agar terhindar dari bahaya klorin. Sekian info 5 Cara Mengetahui Pembalut Wanita Yang Mengandung Klorin, semoga bermafaat ya SeButik Lovers.

Simak juga artikel kesehatan lainnya seperti Penyebab nyeri haid